Rabu, 24 Januari 2018

PERENCANAAN BENDUNG

Muhammad Isra Maulana
14315671
3TA05
BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Seperti yang telah kita ketahui, Indonesia merupakan negara agraris, di mana sebagian besar penduduknya adalah petani. Sehingga sangat dibutuhkan sistem irigasi yang tepat guna agar penyediaan air di sawah terpenuhi dan dapat meningkatkan produksi pertanian. Pola tata tanam yang tepat juga mutlak dibutuhkan sesuai dengan kondisi iklim dan geologi yang ada.
Kebutuhan air di sawah (dinyatakan dalam mm/hari atau lt/dt/Ha), ditentukan oleh faktor-faktor:
a. Penyiapan lahan
b. Penggunaan air konsumtif
c. Perkolasi dan rembesan
d. Pergantian lapisan air
e. Curah hujan efektif
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi kebutuhan air tanaman:
  1. Topografi
Lahan yang miring membutuhkan air lebih banyak dari pada lahan yang datar, karena air akan lebih cepat mengalir menjadi aliran permukaan dan hanya sedikit yang mengalami infiltrasi, sehingga kehilangan air lebih besar.
  1. Hidrologi
Makin besar curah hujan maka makin sedikit kebutuhan air tanaman, karena hujan efektif akan menjadi besar.
  1. Klimatologi
Digunakan untuk rasionalisasi penentuan laju evaporasi dan evapotransportasi.
  1. Tekstur Tanah
Tanah yang baik untuk pertanian ialah tanah yang mudah dikerjakan dan bersifat produktif yaitu tanah yang memberi kesempatan pada akar tanaman untuk tumbuh dengan mudah, menjamin sirkulasi air dan udara, serta baik pada zona perakaran dan secara relative memiliki persediaan hara dan kelembaban yang cukup.
Dalam tugas besar ini, selain merencanakan kebutuhan air irigasi kami juga merencanakan jaringan irigasi serta bangunan utama irigasi dan komponen pelengkapnya.

1.2  Maksud dan Tujuan
Maksud dan tujuan tugas besar ini antara lain:
1.      Mengetahui kebutuhan air untuk irigasi
2.      Mengetahui dimensi saluran yang diperlukan
3.      Dapat mendesain bendung beserta komponen-komponen pelengkapnya
4.      Mengetahui kestabilan bendung yang direncanakan dalam keadaan normal dan banjir serta pada kondisi gempa

 BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Kebutuhan Air Irigasi
Kebutuhan air irigasi diperkirakan untuk menentukan skala final proyek yaitu dengan jalan melakukan analisis sumber air untuk keperluan irigasi. Kebututuhan air meliputi masalah persediaan air, baik air permukaan maupun air bawah tanah, begitu pula masalah manajemen dan ekonomi proyek irigasi. Kebutuhan air telah menjadi faktor yang sangat penting dalam memilih keputusan tentang perbedaan pendapat dalam sistem sungai utama dimana kesejahteraan masyarakat dari lembah, negara, dan bangsa tercakup. Sebelum sumber air dari suatu daerah aliran di daerah kering dan setengah kering dapat ditentukan secara memuaskan, pertimbangan yang hati-hati harus dicurahkan kepada kebutuhan air (consumptive use) pada berbagai sub aliran.

2.1.1 Evaporasi
Perlu diketahui Evaporasi adalah suatu peristiwa perubahan air menjadi uap air. Laju evaporasi dipengaruhi oleh lamanya penyinaran matahari, angin, kelembapan udara, dan lain-lain. Evaporasi meliputi perpindahan massa fluida dari permukaan fluida kedalam atmosfir dan sesuai dengan hal itu akan diharapkan mengikuti hukum penyebaran massa seperti dibahas dalam pasal 1.5. sehingga persamaan dasar diharapkan adalah dalam bentuk:
E= -k
Dimana E adalah besarnya evaporasi , e adalah tekanan uap (menunjukkan pemusatan massa fluida dalam udara),  z adalah jarak tegak dan adalah koefisien perpindahan. Kecuali kasus yang jarang tentang  keadaan atmosfir yang sangat stabil  dibawah mana tidak terdapat turbulensi, koefisien perpindahan tergantung dari keadaan atmosfir, seperti kecepatan angin, tekanan, energi dari matahari, kepekaan dengan mana air tersebut dipanaskan, dan lain-lain. Tekanan uap tergantung dari temperatur kelembaban relative dan kadar garam. Bentuk yang paling sederhana dari persamaan diatas yang bisa disebut hukum Dalton.
E= k
Dimana ew adalah tekanan uap basah sehubungan dengan temperatur permukaan air, eadalah tekanan uap dari udara diatas permukaan air dan  adalah ketebalan dari lapisan film yang tipis pada permukaan diatas mana tekanan uap diharapkan berubah dari eke e .  sering diserap kedalam koefisien perpindahan untuk menyatakan.
E= b
Kesulitan yang praktis terletak dalam penentuan faktor b. Percobaan terkendali (model) dengan menggunakan standart panci evaporasi biasanya berdaya guna untuk menetapkan persamaan diatas dari segi keadan atmosfir. Panci yang diisi dengan air didirikan diatas tanah atau pada permukaan waduk dan perubahan ketinggian pada panci diukur dengan teratur secara bersama-sama denga kecepatan angin, temperatur atmosfir dan temperatur air. Bentuk yang telah diubah dari beberapa hasil yang diperoleh dari percobaan panci dinyatakan dalam daftar dibawah ini.
1.      Diusulkan oleh Morton
E= 42.4(0.6+0.1 )
2.      Diusulkan oleh Rohwer
E= 0.0771(1.465-0.000733p)(0.44+0.118m)
3.      Diusulkan oleh Horton
E= 0.04[{2-exp(0.2m)} ]
4.      Rumus lainnya (Penman)
E= 0.035(1+0.24 ) (padang rumput)
Dan
E= 0.050(1+0.24 ) (dari permukaan air)

Dalam semua uraian, E diukur dalam  cm per hari, m adalah kecepatan angin dalam mil per jam dalam ketinggian disekeliling panci, p adalah tinggi tekanan atmosfer dalam m merkuri,   berturut-turut adalah tekanan uap air dalam permukaan dan tekanan udara dalam mm merkuri, dan adalah tekanan uap air pada titik embun juga dalam mm merkuri,  dalam rumus Penman adalah tekanan uap air jenuh sehubungan dengan temperatur udara.
Dimana diketahui pada rumus evaporasi panci untuk menentukan evaporasi dari volume air alami yang besar, dibatasi oleh banyak faktor, diantaranya adalah:
1.        Kenyataan bahwa perpindahan panas dari suatu volume air yang kecil pada panci tertentu adalah berbeda dari suatu volume air yang besar (kira-kira 0.7 untuk panci tanah dan 0.8 untuk panci terapung) biasanya diperkenalkan apabila rumus panci digunakan pada volume air yang sedang dan besar.
2.      Sifat dan ukuran dari permukaan yang terbuka yang mempunyai pengaruh yang berarti pada bersanya evaporasi. Besarnya evaporasi tidak dapat sebanding dengan luas panci untuk sisi dinding, tumbuh-tumbuhan dan lain-lain
3.      Pengaruh gelombang, riak dan gangguan-gangguan lainnya yang mempengaruhi perlapisan panas dan ketidak stabilan berat jenis;
4.      Perbedaan dalam ketinggian, pada kecepatan angin, temperatur dan jumlah atmosfer lainnya diukur.



BAB IV
PERENCANAAN JARINGAN IRIGASI

4.1. Teori Dasar
            Jaringan irigasi terdiri dari petak-petak tersier, sekunder dan primer yang berlainan antara saluran pembawa dan saluran pembuang terdapat juga bangunan utama, bangunan pelengkap, yang dilengkapi keterangan nama luas dan debit.
            Petak tanah yang memperoleh air irigasi adalah petak irigasi. Sedangkan kumpulan petak irigasi yang merupakan satu kesatuan yang mendapat air irigasi melalui saluran tersier yang sama disebut petak tersier. Petak tersier menduduki menduduki fungsi sentral, luasnya sekitar 50-100 Ha, kadang-kadang sampai 150 Ha. Pemberian air pada petak tersier diserahkan pada petani. Jaringan yang mengalirkan air ke sawah disebut saluran tersier dan kuarter.
            Untuk membawa air dari sumbernya hingga ke petak sawah diperlukan saluran pembawa. Saluran-saluran ini terdiri dari saluran primer, sekunder, tersier, dan kuarter. Dengan saluran pembuang, air tidak tergenang pada petak sawah sehingga tidak berakibat buruk. Kelebihan air ditampung  dalam suatu saluran pembuang tersier dan kuarter dan selanjutnya dialirkan ke jaringan pembuang primer.
            Jaringan irigasi dengan pembuang dipisahkan sehingga keduanya berjalan sesuai dengan fungsinya masing-masing. Dalam hal-hal khusus dibuat sistem tabungan saluran  pembawa dan pembuang. Keuntungan sistem gabungan adalah pemanfaatan air lebih ekonomis dan biaya lebih murah. Kelemahannya adalah saluran semacam ini lebih sulit diatur dan dieksploitasi, lebih cepat rusak dan menampakkan pembagian air yang tidak merata.
            Saluran-saluran dapat dilengkapi bermacam-macam bangunan yang berfungsi untuk mempermudah pengaturan air yang berada pada saluran yang lebih kecil atau pada petak sawah.


Pada jaringan irigasi terdapat bangunan-bangunan pelengkap yang terdiri dari:
  • Tanggul-tanggul untuk melindungi daerah irigasi dari banjir. Biasanya dibangun disepanjang tepi sungai sebelah hulu bendung atau sepanjang saluran primer.
  • Kisi-kisi penyaring untuk mencegah tersumbatnya bangunan (pada sipon atau gorong-gorong)
  • Jembatan dan jalan penghubung dari desa untuk keperluan penduduk.

Selain bagunan utama dan pelengkap terdapat bangunan pengontrol yang terdiri dari bangunan bagi, sadap, bagi sadap, bangunan terjun, talang, got miring.
Sebelum diambil keputusan, terlebih dahulu dicek apakah apakah daerah ini tidak mungkin diari selamanya atau hanya untuk sementara saja. Jika sudah pasti tidak bisa ditanami, daerah ditandai pada peta. Daerah semacam ini dapat digunakan sebagai pemukiman, pedesaan, dan daerah lai selain persawahan/perkebunan.
Dalam pembagian petak tersier dan kuarter harus diperhatikan keadaan lapangan dan batas-batas alam yang ada misalnya saluran-saluran lama, sungai, jalan raya, kereta api dan sebagainya. Perencanaan jaringan irigasi mempertimbangkan faktor-faktor seperti medan lapangan, ketersediaan air dan lain-lain. Sebelum merencanakan suatu daerah irigasi terlebih dahulu harus diadakan penyelidikan mengenai jenis-jenis tanah pertanian yang akan dikembangkan, bagian yang akan dilewati jaringan irigasi (kontur, sungai, desa, dan lainnya). Keseluruhan proses tersebut harus mempertimbangkan faktor ekonomis dan dampak setelah serta sebelum pelaksanaan proyek.
Dasar tiap-tiap sistem adalah membawa air irigasi ke tempat yang mungkin diairi. Daerah yang tidak dapat diari dapat digunakan sebagai daerah non persawahan misalnya perumaha. Sistem yang direncanakan harus mudah dimengerti dan memperhatikan faktor pemberian air  serta pemanfaatan daerah yang lebih efektif. Data yang dibutuhkan untuk daerah perencanaan daerah irigasi adalah keadaan topografi, gambaran perencanaan atau  pelaksanaan jaringan utama, kondisi hidrometeorologi untuk menentukan kebutuhan air irigasi atau pembuangan, serta daerah-daerah tergenang atau kering.
Saluran irigasi direncanakan dengan mempertimbangkan garis kontur, sistem irigasi menggunakan sistem grafitasi, yaitu air mengalir karena gaya tarik bumi dari tempat tinggi ke tempat yang lebih rendah. Sebagai contoh, saluran pembawa biasanya dibuat sejajar searah dengan kontur yang akan mengalirkan air dari puncak bagian atas menuju ke bawah melalui lembah kontur.

4.2. Gambaran Daerah Rencana 
            Sistem jaringan irigasi yang akan direncanakan digambar terlebih dahulu. Hal penting dalam penggambaran adalah pengetahuan tentang peta. Degan pertolongan peta dapat diketahui daerah irigasi rencana, letak tempat-tempat, jalan kereta, aliran sungai dan lain-lain. Tahapan dalam perencanaan adalah pendahuluan dan tahap perencanaan akhir.
            Dalam peta tergambar garis kontur daerah ini. Dari garis kontur terlihat bahwa topografi daerah tidak terlalu datar. Pada beberapa daerah terdapat cekungan-cekungan  dan bukit-bukit. Elevasi tertinggi adalah 110 dan elevasi terendah adalah 92,5. Pada daerah ini terdapat satu sungai besar yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber air pada daerah irigasi. Daerah tepi sungai adalah daerah yang potensial untuk daerah persawahan sehingga darah ini sebagian besar digunakan untuk petak tersier. Jenis tanah daerah ini adalah loam yang sangat baik untuk pertumbuhan tanaman. Petak yang diambil sebagai percontohan adalah petak tersier.

4.3. Lay Out Jaringan Irigasi
            Lay Out jaringan irigasi adalah suatu cara yang membedakan bagian-bagian yang terdapat dalam irigasi bentuknya serupa Lay Out Map. Lay Out Map berisi skema jaringan irigasi. Tujuan pembuatan skema jaringan irigasi adalah mengetahui jaringan irigasi, bangunan irigasi, serta daerah-daerah yang diairi meliputi luas, nama dan debit.

  • Bangunan utama (head work)
  • Sistem saluran pembawa (irigasi)
  • Sistem saluran pembuang (drainase)
  • Primer unit, sekunder unit, tersier unit.
  • Lokasi bangunan irigasi
  • Sistem jalan
  • Non irigated area (lading)
  • Non irigatable area (tidak dapat dialiri)
  •  Misalnya :
a)      daerah dataran tinggi
b)      rawa (daerah yang tergenang)

Saluran pembawa adalah saluran yang membawah air irigasi dari bangunan utama ke petak-petak sawah. Ada empat macam saluran pembawa, yaitu saluran primer, sekunder, tersier, dan kuarter.
            Prinsip pembuatan saluran primer adalah direncanakan bedasarkan titik elevasi tertinggi dari daerah yang dapat dialiri. Jika daerah yang dialiri diapit oleh dua buah sungai, maka saluran dibuat mengikuti garis prmisah air. Saluran sekunder direncanakan melalui punggung kontur.
            Selain saluran pembawa, pada daerah irigasi harus terdapat saluran pembuang. Saluran pembuang dibuat untuk menampung buangan (kelebihan) air dari petak sawah. Sistem pembuangan ini disebut sistem drainase. Tujuan sistem  drainase adalah mengeringkan sawah, membuang kelebihan air hujan, dan membuang kelebihan air irigasi. Saluran pembuangan di buat di lembah kontur.
Dasar perencanaan lahan untuk jaringan irigasi adalah unit tersier. Petak tersier adalah petak dasar disuatu jaringan irigasi yang mendapatkan air irigasi dari suatu bangunan sadap tersier dan dilayani suatu suatu jaringan tersier. Faktor-faktor yang harus dipertimbangkan dalam pembuatan Lay Out tersier adalah :
·         Luas petak tersier
·         Batas-batas petak
·         Bentuk yang optimal
·         Kondisi medan
·         Jaringan irigasi yang ada
·         Eksploitasi jaringan

Batas-batas untuk perencanaan lahan untuk daerah irigasi
a.   Batas alam
    • Topografi (puncak gunung)
    • Sungai
    • Lembah
b.      Batas Administrasi

Untuk perencanaan detail jaringan pembawa dan pembuang diperlukan peta topografi yang akurat dan bisa menunjukkan gambarangambaran muka tanah yang ada. Peta topografi tersebut bisa dieroleh dari hasil pengukura topografi atau dari foto udara. Peta tersebut mencakup informasi yang berhubungan dengan :
  • Garis kontur dengan interval
  • Batas petak yang akan dicat
  • Tata guna tanah, saluran pembuang dan jalan yang sudah ada serta bangunannya
  • Tata guna tanah administratif
Garis kontur pada peta menggambarkan medan daerah yang akan direncanakan. Topografi suatu daerah akan menentukan Lay 0ut serta konfigurasi yang paling efektif untuk saluran pembawa atau saluran pembuang. Dari kebanyakan tipe medan Lay Out yang cocok digambarkan secara sistematis. Tiap peta tersier yang direncanakan terpisah agar sesuai dengan batas alam dan topografi. Dalam banyak hal biasanya dibuat beberapa konfigurasi Lay Out jaringan irigasi dan pembuang.



Klasifikasi tipe medan sehubungan dengan perencanaan daerah irigasi :
  1. Medan terjal kemiringan tanah 2 %
Medan terjal dimasna tanahnya sedikit mengandung lempun rawan erosi karena aliran yang tidak terkendali. Erosi terjadi jika kecepatan air pada saluran lebih batas ijin.hal ini menyebabkan berkurangnya debit air yang lewat, sehingga luas daerah yng dialiri berkurang. Lay Out untuk daerah semacam ini dibuat
dengan dua alternatif .
kemiringan tercuram dijumpai dilereng hilir satuan primer. Sepasang saluran tersier menggambil air dari saluran primer di kedua sisi saluran sekunder.
Saluran tersier pararel dengan saluran sekunder pada satu sisi dan memberikan airnya ke saluran kuarter garis tinggi, melalui boks bagi kedua sisinya.
  1. Medan gelombang, kemiringan 0,25-2,3%
kebanyakan petak tersier mengambil airnya sejajar dengan saluran sekunder yang akan merupakan batas petak tersier pada suatu sisi. Batas untuk sisi yang lainnya adalah saluran primer. Jika batas-batas alam atau desa tidak ada, batas alam bawah akan ditentukan oleh trase saluran garis tinggi dan saluran pembuang. Umumnya saluran yang mengikuti lereng adalah saluran tersier. Biasanya saluran tanah dengan bangunan terjun di tempat-tempat tertentu. Saluran kuarter akan memotong lereng tanpa bangunan terjun dan akan memberikan air karena bawah lereng. Kemungkinan juga untuk memberikan air ke arah melintang dari sawah satu ke sawah yang lain.
  1. Medan berombak, kemiringan tanahnya 0,25-2% umumnya kurang dari 1%
Saluran tersier diatur letaknya di kaki bukit dan memberikan air dari salah satu sisi. Saluran kuarter yang mengalir paralel atau dari kedua sisi saluran kuarter yang mungkin mengalir ke bawah punggung medan. Saluran pembuang umumnya merupakan saluran pembuang alami yang letaknya cukup jauh dari saluran irigasi. Saluran pembuang alami biasanya akan dilengkapi sistem punggung medan dan sistem medan. Situasi dimana saluran irigasi harus melewati saluran pembuang sebaiknya harus dihindari.
  1. Medan sangat datar, kemiringan tanah 0,25%
Bentuk petak irigasi direncanakan dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
    • Bentuk petak sedapat mungkin sama lebar dan sama panjang karena bentuk yang memanjang harus dibuat saluran tersier yang panjang akan menyulitkan pemeriksaan pemberian air dan pemeliharaan juga menyebabkan banyaknya air yang hilang karena rembesan ke dalam tanah dan bocoran keluar saluran.
    • Petak yang panjang dengan saluran tersier ditengah-tengah petak tidak memberi cukup kesempatan pada air untuk meresap kedalam tanah karena jarak pengangkut yang terlalu pendek.
    • Tiap petak yang dibuat harus diberi batas nyata dan tegas agar tidak terjadi keraguan dalam pemberian air.
    • Tiap bidang tanah dalam petak harus mudah menerima dan membuang air yang sudah tidak berguna lagi.
    • Letak petak berdekatan dengan tempat-tempat pintu pengambilan. Maksudnya agar pemeriksaan pemberian air pada intake tersier mudah dijalani petugas.
Di beberapa petak tersier ada bagian-bagian yang tidak diairi karena berbagai alasan, misalnya :
                    Jenis tanah tidak cocok untuk pertanian
                    Elevasi tanah terlalu tinggi
                    Tidak ada petani penggarap
                    Tergenang air
Kecocokan tanah di seluruh daerah dipelajari dan dibuat rencana secara optimal sehingga dapat diputuskan bentuk jaringan tersiernya. 

4.3.1. Keadaan Topografi
      Untuk perencanaan detail jaringan irigasi tersier dan pembuang, diperlukan peta topografi yang secara akurat menunjukkan gambaran muka tanah yang ada. Untuk masing-masing jaringan irigasi dan digunakan titik referensi dan elevasi yang sama.
      Peta-peta ini dapat diperoleh dari hasil-hasil pengukuran topografi (metode terestris) atau dari foto udara (peta ortofoto). Peta-peta ini harus mencakup informasi yang berkenaan dengan :
  • Garis-garis kontur
  • Batas-batas petak sawah
  • Tata guna lahan
  • Saluran irigasi, pembuang dan jalan-jalan yang ada beserta bangunannya
  • Batas-batas administratif (desa, kampung)
  • Rawa dan kuburan
  • Bangunan

Skala peta dan interval garis-garis kontur bergantung kepada keadaan topografi :
Tabel. Definisi Medan untuk Topografi Makro
Kontur Medan
Kemiringan Medan
Skala
Interval
Sangat Datar
<0,25 %
1: 5000
0,25
Datar
0,25 - 1,0 %
1 : 5000
0,5
Bergelombang
1 - 2 %
1 : 2000
0,5
Terjal
>2 %
1 : 2000
1,0

Selain itu juga akan diperhatikan kerapatan atau densitas titik-titik di petak-petak sawah agar arah aliran antar petak dapat ditentukan.
Peta ikhtisar harus disiapkan dengan skala 1 : 25000 dengan lay out jaringan utama dimana petak tersier terletak. Peta ini harus mencakup trase saluran pembuang, batas-batas petak tersier dan sebagainya. Untuk penjelasan yang lebih rinci mengenai pengukuran dan pemetaan, lihat persyaratan teknis untuk Pemetaan Terestris dan pemetaan ortofoto.

4.3.2. Gambar-gambar Perencanaan Jaringan yang ada ( As Buildrowing)
Di daerah-daerah yang sudah ada fasilitas irigasinya, diperlukan data-data perencanaan yang berhubungan dengan daerah-daerah irigasi, kapasitas saluran irigasi dan muka air maksimum dari saluran-saluran yang ada dan gambar-gambar purbalaksanan (kalau ada), untuk menentukan tinggi muka air dan debit rencana.
Jika data-data ini tak tersedia, maka untuk menentukan tinggi muka air rencana pada pintu sadap dan elevasi bangunan sadap lainnya harus dilaksanakan pengukuran.

4.4. Skema Sistem Jaringan Irigasi
Skema jaringan irigasi merupakan penyederhanaan dari tata letak jaringan irigasi yang menunjukkan letak bangunan irigasi yang penting. Skema jaringan irigasi mempertimbangkan hal sebagai berikut :
·         Saluarn primer, sekunder dan bangunan sadap menuju saluran tersier digambar terlebih dahulu dengan lambang sesuai ketentuan.
·         Tiap ruas saluran diantara saluran menunjukkan luas daerah yang diairi. Panjang saluran disesuaikan dengan panjang sesungguhnya dan kapasitasnya.
·         Tiap bangunan sadap diberi nama bangunan, luas, kapasitas bangunan serta saluran yang akan diari.
·         Lokasi dan nama pembendung air ditulis.
·         Arah aliran sungai ditunjukkan.
·         Ditulis juga nama bangunan pelengkap serta bangunan kontrol lainnya.

4.5. Petak Tersier Percontohan
Perencanaan jaringan irigasi tersier harus sedemikian sehingga pengelolaan air dapat dilaksanakan dengan baik. Untuk mendapatkan hasil perencanaan yang baik prlu diperhatikan hal sebagai berikut :
4.5.1. Petak Tersier Ideal
Petak tersier ideal adalah petak yang masing-masing pemilik sawahnya memiliki pengambilan sendiri dan dapat membuang kelebihan air langsung ke jaringan pembuang.
Para petani dapat mengangkut hasil pertanian dan peralatan mesin atau ternaknya dari dan kesawah melalui jalan petani yang ada.

4.5.2. Ukuran Petak Tersier dan Kuarter
Ukuran optimum suatu petak tersier adalah 50-150 ha ( 500.000 m2 – 1.500.000 m2).. Di petak tersier yang berukuran kecil, efisiensi irigasi akan lebih tinggi karena :
·         Diperlukan titik pembagi yang lebih
·         Saluran-saluran yang lebih pendek menyebabkan kehilangan air yang kecil
·         Lebih sedikit petani yang terlibat kerja sama lebih baik
·         Pengaturan air yang lebih baik sesuai dengan kondisi tanaman
·         Perencanaan lebih fleksibel sehubungan dengan batas-batas desa

Kriteria umum untuk pengembangan petak tersier :
Ukuran petak tersier                                                      : 50-150 hektar
Ukuran petak kuarter                                                     : 8-15 hektar
Panjang saluran tersier                                                  : 1500 meter
Panjang saluarn kuarter                                                 : 500 meter
Jarak antara saluran kuarter dan pembuang                  : 300 meter

4.5.3. Batas Petak
Batas berdasarkan pada kondisi topografi. Daerah itu hendaknya diatur sebaik mungkin, sedemikian hingga satu petak tersier terletak dalam satu daerah administrative desa agar eksploitasi dan pemeliharaan jaringan lebih baik.
Jika ada dua desa di petak tersier yang sangat luas maka dianjurkan untuk membagi petak-petak tersebut menjadi dua petak subtersier yang berdampingan sesuai dengan daerah desa masing-masing.
Batas-batas petak kuarter biasanya akan berupa saluran irigasi dan pembuangan kuarter yang memotong kemiringan medan dan saluran irigasi serta pembuangan kuarter yang memotong kemiringan medan. Jika mungkin batas ini bertepatan dengan batas-batas hak milik tanah.

BAB V
PERENCANAAN BANGUNAN UTAMA

1.      Perencanaan Mercu Bendung
1)        Perencanaan Elevasi  Bendung
a)      Elevasi mercu bendung
      Diperoleh dari UWL Intake + angka toleransi ( 1,5 )
            Elevasi mercu bendung 11.5+ 1,5 =  13 m
b)      Tinggi mercu bendung
dari dasar lantai hulu   : direncanakan 5 meter
dari dasar lantai hilir   : direncanakan 6,5 meter
c)      Elevasi dasar bendung
      Hulu    : + 13,00 –  5   = + 8,00 m
      Hilir     : + 13,00 – 6,5 = + 6.5 m

2)        Panjang Mercu Bruto ( bb )
Untuk dapat menentukan panjang mercu bruto maka harus dilakukan perhitungan penentuan panjang mercu bendung. Panjang mercu bendung ditentukan 1,2 kali lebar sungai.
Adapun dalam hal ini panjang mercu bruto didapatkan dari gambar peta situasi sebesar 175 m.
         
3)        Lebar Lubang Pembilas
Lebar bangunan pembilas diambil sepersepuluh kali lebar sungai rata-rata. Adapun dalam hal ini, lebar lubang pembilas telah didapatkan dari gambar peta situasi sebesar 9 m.

Kesimpulan:
a)      Direncanakan 3 pembilas dengan lebar masing – masing 2,00 meter
b)      Pilar pembilas 2 buah dengan lebar masing – masing 1,50 meter

4)        Panjang Mercu Bendung Efektif ( be)
Panjang mercu bendung efektif dihitung dengan menggunakan rumus yakni sebagai berikut :
be  = bb – 2 ( n . kp + ka ) . He
dengan :
be   : panjang mercu bendung efektif ( m )
bb   : Panjang mercu bruto (dari perhitungan panjang mercu bendung)
n     : jumlah pilar pembilas ( m )
kp   : koef. kontraksi pilar ( 0,01 )
ka   : koef. kontraksi pangkal bendung ( 0,1 )
He  : tinggi energy
Jadi, perhitungan panjang mercu bendung efektif, yaitu :
be  = bb – 2 ( n . kp + ka ) . He
      = 175 – 2 ( 2 . 0,01 + 0,1 ) . He   
      = 175 – 0,204 . He           
Perhitungan panjang mercu bendung efektif dapat juga dilakukan dengan menggunakan cara lain yakni sebagai berikut :
be = Bb - 20% (∑b-∑t)
be = 175 – 20% ( 6 – 2 )
    = 174,4  m
dengan :
bb : Panjang mercu bruto
∑b : Jumlah lebar pembilas
∑t : Jumlah pilar-pilar pembilas

5)        Tinggi Muka Air Banjir di Udik Bendung
Direncanakan debit banjir ( Qd ) = 1659 m3/dt
Qd = C . be . He1,5

Diasumsikan   : He = Ha (lihat penjelasan di bawah)
Dimana :
Qd : debit banjir sungi rencana
C    : koef. debit pelimpah ( 2,19 )
Ha  : tinggi tekanan
                        :  be = 174,4  m
He =
=
= 2,662 m


Tinggi tekanan (deesain head) ditentukan dengan persamaan berikut :
He       = He – v2/2g
v2/2g    = 0 (diabaikan)
Ha       = 2.662 m

Kesimpulan :
Ø  Tinggi muka air banjir di udik bendung   = Ha = 2.662 m
Ø  Elevasi muka air banjir                             = Elevasi mercu bendung + Ha
                                                                 = 13,00 +  2.662
                                                                        = 15.662 m

5.1) Penentuan Nilai Jari-Jari Mercu Bendung
Nilai jari-jari mercu bendung ditentukan berdasarkan grafik hubungan antara tinggi muka air udik (ha) dan besarnya jari-jari (r) serta debit pengaturan lebar yang diterbitkan oleh DPMA.
Dari garfik tersebut, Ha=He = 2.662 m dan q=11,62 m3/detik/m’
diperoleh nilai r = 1.5
6)        Pemilihan Tipe Bentuk Pelimpah
Bentuk pelimpah direncanakan menggunakan tipe mercu bulat. Adapun hal ini disebabkan oleh beberapa factor berikut ini :
-       Bentuknya sederhana sehingga mudah dalam pelaksanaannya.
-       Mempunyai mercu yang besar sehingga lebih tahan terhadap benturan batu gelundung.
-       Tahan terhadap goresan atau abrasi karena diperkuat oleh pasangan batu candi atau beton.

2.    Desain Bangunan Intake
1)        Bentuk Intake
Intake di desain dengan lubang pengairan terbuka, dilengkapi dengan dinding banjir, arah Intake terhadap sumbu sungai di buat tegak lurus. Lantai intake tanpa kemiringan dengan elevasi lantai sama tinggi dengan elevasi plat undersluice.

2)        Dimensi lubang Intake
Dari tabel perhitungan maka dimensi diperoleh :
QIntake = 11,62 m3/dt
Dimensi lubang intake dihitung dengan menggunakan persamaan berikut :
Q         = µ. b . a .
Dengan :
a   = tinggi bukaan (m)
b   = lebar bukaan (m)
z   = kehilangan tinggi energi pada bukaan (m)
µ   = koef. debit (antara 0,80-0,90)
g   = percepatan gravitasi

Perbandingan antara lebar bukaan dan tinggi bukaan dapat diambil dengan perbandingan sebagai berikut :
b : h     = 1:1 atau
b : h     = 1,5 : 1 atau
b : h     = 2 : 1

Selanjutnya, tinggi bukaan diasumsikan a=h1(dari table perhitungan) =1,496573719 dibulatkan menjadi 1,5 m. Dengan demikian, perhitungan dimensi lubang intake didapatkan :
Q         = µ . b . a .
11,62   = 0,85 . b . 1,5.
11,62   = 0.85 . b . 2,971
11,62   = 2,526 b
b          = 4.6 m ≈ 5 m
Diambil b = 5 m, dibuat 2 bukaan sehingga lebar pintu 2 x 2,50 m.
Kesimpulan :
Lebar bukaan pintu intake      = 2 x 2,50 m
Tinggi bukaan lubang intake   = 1,5 m
Lebar pilar                               = 1,5 m

3)        Pemeriksaan Diameter Sedimen Yang Masuk Ke Intake
Besarnya diameter partikel yang melewati intake sebanding dengan kecepatan aliran pada lubang intake. Untuk memperkirakan diameter partikel yang melewati intake, digunakan rumus :
V = 0,396 . {(Qs -1) d }1/2
Dengan :
V    : Kec. Aliran
Qs  : Berat jenis partikel ( 2,65 )
d    : diameter partikel

Kecepatan aliran yang mendekat ke intake dapat dihitung dengan menggunakan rumus berikut ini :
Q = A x V
Dengan :
Q         = debit intake (m³/detik)
A         = luas penampang basah (m²)
V         = kecepatan aliran (m/s)
A (luas penampang basah)
= (2 x 2,5) x 1,5 m
= 7,5 m²
    = 6,5 m2
V =                                                         
V = 11,62 / 7,50
V = 1,549 m3/dt


Dengan demikian dimensi partikel :
V       = 0,396 . {(Qs -1) d }1/2
1,549 = 0,396 . {(2,65 -1) d }1/2
d = 9.2735 mm
Diameter partikel yang melewati intake diperkirakan 9.2735 mm atau dibulatkan menjadi 9 mm.


3.     Desain Bengunan Peredam Energi
a.       Pemilihan tipe
Jenis sungai di daerah ini yakni sungai alluvial dengan angkutan sedimen dominan fraksi pasir dan kerikil. Adapun direncanakan tinggi mercu bendung lebih dari 4 m sehingga terjadi perbedaan elevasi dasar udik lebih tinggi dari dasar sungai. Berdasarkan dua alasan tersebut maka tipe peredam yang cocok adalah tipe MDO.
Dalam penggunaan tipe ini ditentukan bentuk mercu bendung bulat dengan satu jari-jari pembulatan, bidang miring tubuh bendung bagian hilir permukaannya bentuk miring dengan perbandingan 1:1.

b.      Grafik dan Rumus
Dalam mendesain dimensi peredam energy tipe MDO ini digunakan grafik-grafik yang diterbitkan oleh DPMA. Grafik-grafik tersebut yaitu grafik untuk menentukan dimensi peredam energy tipe MDO yakni seperti berikut :
-          Grafik untuk penentuan kedalaman lantai peredam energy
-          Grafik untuk penentuan panjang lantai peredam energi
-          Parameter energy dihitung dengan rumus sebagai berikut:
-          Kedalaman lantai peredam energy dihitung dengan rumus :
 diperoleh dari grafik.

-          Panjang lantai peredam energy dihitung dengan rumus :
 diperoleh dari grafik.

-          Tinggi ambang akhir dihitung dengan rumus :
a= (0,3x D2)


-          Lebar ambang akhir dihitung dengan rumus :
b= 2 x a
Keterangan :
E = parameter energy
Q = debit desain persatuan lebar pelimpah bendung m³/dt/m
z = perbedaan tinggi muka air udik dan hilir, m
g = percepatan grafitasi m/dt²
Ds = kedalaman lantai akhir, m
a = tinggi ambang akhir, m
D2 = kedalaman air di hilir, m

c.       Desain dimensi peredam energy
Debit desain persatuan lebar

    
  = 9,513 m³/dt/m’
z = 1,5 m
g = 9,81 m/dt²

kedalaman air di hilir : D2 = Y
Q = C x L x Y3/2
Q = 1659 m3/dt
C = 1,7
L = Bentang sungai rata-rata diambil 146 m


             = 3,55 m



Parameter energy

    =
   = 1,653

Panjang lantai peredam energy:
L/D2 = 1,87 ; L/D2 diambil dari grafik MDO
L = 1,87 x 14,6 = 26,645 m = 27.302 m

Kedalaman lantai peredam energy :
D/D2 = 1,5 ; D/D2 diperoleh dari grafik MDO
D = 1,5 x 3,55
    = 5,325 = 5 m

Tinggi ambang akhir
A = 0,3 x 3,55
    = 1,065 ≈ 1,1 m

Lebar ambang akhir
B = 2 x a
   = 2 x 1,1
   = 2,2 m




4.      Perencanaan Dimensi Hidrolik Bangunan Pembilas
Bangunan pembilas direncanakan menggunakan underslice lurus dengan meletakkan bangunan di sisi tubuh bendung dekat tembok pangkal. Adapun mulut undersluice mengarah ke udik bukan ke arah samping dan pilar pembilas berfungsi sebagai tembok penangkal. Lantai intake tanpa kemiringan dengan elevasi lantai sama tinggi dengan elevasi plat undersluice

Dimensi lubang underslice
Pembilas dibuat 3 buah masing-masing 2,00 m. lebar pilar pembilas ditetapkan 2 buah dengan lebar msing-masing pilar 1,50 m.

·      lebar lubang            = 2,50 m
·      tinggi lubang          = direncanakan 1,5 m
·      lebar pilar               = 1,5 m
·      undersluice dibagi 2 bagian

5.        Perhitungan Bangunan Ukur Pada Intake
Tipe bangunan ukur pada intake yang digunakan adalah jenis Crum de Gruyter sebab debit intake yang dihasilkan sangat besar yakni Qintake = 11.62 m3/detik. Bangunan ukur berfungsi mengukur besarnya debit ke saluran. Diletakkan agak jauh di hilir pintu intake. Besarnya aliran diketahui dengan membaca tinggi muka air di pelskal. Adapun perhitungan yang dilakukan seperti tertera di bawah ini:
Dengan:
Q         : debit intake = 11.62 m3/detik
Cd           : koefisien debit diambil 0,94
B         : lebar bukaan pintu
Y         : bukaan pintu
H         : tinggi energi total di atas ambang di udik pintu
           
           


= 7.3 m ≈ 7 m
Pintu dibuat dengan tiga lebar bukaan masing-masing 2,3 m.
Anggapan  = γ = 3
 = 0,495                        diperoleh dari grafik
 = 0,140                    diperoleh dari grafik

Jadi Δh = 0,495 x tinggi bukaan lubang intake
                     = 0,495 x 1,5
                     = 0,7425 m ≈ 0,75 m
Bukaan tinggi minimum (Ymin)
Ymin     = 0,140 x 1,5
                     = 0,21 m
Bukaan tinggi maksimum (Ymax)
Ymax     = 0,63 x 1,5
              = 0,945 m ≈ 0,94 m


6.      Perhitungan Panjang Lantai Udik
Rumus yang digunakan berdasarkan teori Lane’s :
L =  L+ 1/3 LH

Dimana :
L     = panjang total rayapan
LV   = panjang vertikal rayapan
LH    = panjang horisontal rayapan
Dalam desain ini diambil nilai :
4
Dimana :
L   = Panjang rayapan
∆H = kehilangan tekanan

Perhitungan
Perhitungan dilakukan dengan kondisi tidak ada aliran dari udik sehingga Q=0. Jadi ∆H = elevasi mercu – elevasi lantai olakan =19 – 24,824 = 10 m
Panjang rayapan seharusnya:
Lb >  4 x ∆H = 4 x 10 40 m
Tabel. Koefisien Tanah
Pasir agregat halus atau lanau
8,5
Pasir halus
7,5
Pasir sedang
6,0
Pasir kasar
5,0
Kerikil halus
4,0
Kerikil sedang
3,5
Kerikil besar termasuk berangkal
3,0
Bongkah dengan sedikit brongkal + kerikil
2,5
Lempung lunak
3,0
Lempung sedang
2,0
Lempung keras
1,8
Lempung sangat keras
1,6







Tabel. Panjang Rembesan
Berdasarkan tabel di  atas diperoleh:
Lv = 45,06 m
Lh = 44,88 m
Lp = Lv + 1/3 LH
Lp = 45,06 + 14,8104  = 59,8704 m
Adapun Lb yang dibutuhkan = 40 m Lp hasil perhitungan = 59,8704  m
Lp = 59,8704  > Lb = 40 OK
Panjang lantai udik cukup memadai.


BAB VI
ANALISIS  STABILITAS  PELIMPAH

6.1        Tebal Lantai
Tebal lantai saluran samping, transisi, peluncur, dan peredam energi direncanakan agar dapat menahan gaya angkat (uplift). Rumus yang digunakan adalah sebagai berikut:
UPx = Hx -
Dengan :
dx        = tebal lantai pada titik yang ditinjau (m)
Fs        = factor keamanan
Upx            = gaya angkat di titik x (t.m-3)
Wx         = kedalaman air pada titik x (m)
γb            = berat jenis konstruksi (t.m-3)
Hx          = tinggi energi di hulu sampai titik x (m)
H         = beda tinggi energi hulu sampai hilir (m)
L          = panjang rayapan total (m)
Lx           = panjang rayapan dari titik yang ditinjau (m


6.8        Analisis Pembebanan
Dalam perhitungan pembebanan ditinjau dari gaya-gaya yang bekerja pada pelimpah, gaya tersebut adalah:
1.    Gaya tekanan hidrostatis air di hulu pelimpah
2.    Gaya tekanan hidrodiamis air I hulu pelimpah
3.    Gaya akibat tekanan air di hilir pelimpah
4.    Gaya akibat berat pelimpah
5.    Gaya akibat tanah di samping
6.    Gaya akibat gempa

TabelFaktor Bentuk Pondasi
Faktor
 bentuk
Bentuk pondasi
Menerus
Bujursangkar
Persegi
Lingkaran
α
1,0
1,5
1,0 + 03B/L
1,3
β
0,5
0,4
0,5 + 0,1B/L
0,3
        (Sumber: Sosrodarsono, 1981:33)

Tabel.  Koefisien Daya Dukung dari OHSAKI
θ
Nc
Nq
5,3
0
1,0
5,3
0
1,4
10°
5,3
0
1,9
15°
5,5
1,2
2,7
20°
7,9
2,0
3,9
25°
9,9
3,3
5,6
28°
11,5
4,4
7,1
32°
20,9
10,6
14,1
36°
42,2
30,5
31,6
40°
95,7
115,7
81,3
45°
172,3
325,8
173,3
50°
347,5
1073,4
415,1
     (Sumber: Sosrodarsono, 1981:33)


6.9 Gaya Akibat Tekanan Air
1.      Tekanan Hidrostatis
        
dengan:
Pw       = tekanan air statis (t.m-2)
H1          = tinggi muka air di atas pelimpah (m)
H2        = tinggi muka air di hulu pelimpah (m)
γw         = berat jenis air (t.m-3)

2.      Tekanan Hidrodinamis
          
                             
dengan:
Pd   = tekanan air dinamis (ton)
kH  = koefisien gempa
Z     = perbandingan H1/H2
Y    = jarak terhadap pusat tekanan (m)

3.      Berat Air
                                         
dengan:
V    = volume air (m3)
γ w    = berat jenis air (t.m-3)


6.9.1 Berat Sendiri Bangunan

dengan:
Wtotal    = berat total konstruksi (ton)
W        = berat konstruksi tiap bagian (ton)
V         = volume konstruksi tipa bagian (m3)
γb        = berat jenis konstruksi (t.m-3)




                                                                      BAB VII.
ANALISIS STABILITAS KONSTRUKSI

7.1. Stabilitas
Suatu konstruksi harus mempunyai kedudukan yang stabil dalam segala keadaan yang mungkin menimpanya. Disamping itu tanah tempat suatu konstruksi didirikan haruslah cukup kuat untuk menahan beban konstruksi dan pengaruh-pengaruh luar lainnya.
Oleh karena itu, dalam perencanaan bangunan pelimpah ini, perlu dilakukan kontrol-kontrol stabilitas yang meliputi :
-          Stabilitas terhadap guling.
-          Stabilitas terhadap geser.
-          Stabilitas terhadapdaya dukung tanah.
Kondisi pembebanan dalam perencanaan ini ditinjau terhadap 3 keadaan, yang merupakan keadaan yang paling kritis terhadap keamanan bangunan. Keadaan tersebut adalah (Soedibyo, 1993:123) :
1.      Kondisi pada akhir konstruksi.
2.      Kondisi pada muka air waduk normal dan gempa.
3.      kondisi pada muka air banjir dan gempa.

7.2. Perhitungan Gaya-Gaya Yang Bekerja
7.2.1. Perhitungan Tekanan Tanah
Perhitungan tekanan tanah pada tubuh pelimpah didasarkan
Berat air diatas tubuh pelimpah
-           W12        = 4,89 tm-1
-           W13        = 5,66 tm-1
-           W14        = 3,66 tm-1
-           W15      = 0,73 tm-1
-           W16      = 16,06 tm-1
-           W17      = 22,35 tm-1


7.2.2. Perhitungan Gaya Angkat (uplift)
            Rayapan air yang melewati pondasi mempunyai tekanan ke atas yang bekerja pada dasar struktur. Besarnya gaya angkat dihitung berdasarkan persamaan, yaitu :



Pada rumus Rankine, yaitu :
Ka       = tan2 (45°-q/2)
            =0,31
Diketahui Φ = 320 (untuk tipe tanah pasir bulat, ”Mekanika Tanah Jilid 2”: Braja M. Das; hal 5), maka :
Pa         =
            = ½ . 0,31. 1,87 . 5.28 2 . 1 = 8,08 t
Pp         =
            = ½ . 0.31. 1,87 . 4,5 2 . 1 = 5.87 t

7.2.3. Perhitungan Tekanan Air
            Keadaan air di hulu pelimpah akan menimbulkan gaya hidrolis pada hulu dinding ambang pelimpah. Gayanya bekerja ke arah vertikal dan horizontal. Gaya vertikal adalah berat sendiri air, sedangkan gaya horizontal adalah tekanan air statis dan dinamis.
a.       Kondisi muka air normal
-          Tekanan air statis
Pw        = ½ . γw . H2
            ½ . 1 . 5 2
            = 12.5 tm-2
-          Tekanan air dinamis
      Pd         = 7/12 . 1 . 0,1 . 5 2 . (1-01.5)
                  = 1,46 tm-2

b.      Kondisi muka air banjir
-          Tekanan air statis
        Pw     = ½ x ((gw x H­22)-( gw x H12))           
                  = ½ x (( 1 x 7,62) - (1 x 2,62)
                  = 25.5 tm-2


-          Tekanan air dinamis
               Pd      = 7/12 . 1 . 0,15 . 7,62 . (1 – 0,34) 1,5  = 2.71 tm-2

7.2.4. Perhitungan gaya angkat pada masing-masing titik adalah :

Notasi
Hx (m)
Upx (tm^-1)
Ket
NWL
FWL
NWL
FWL
La =
0
5
7.60
5.00
7.60

Lb =
1
6.00
8.60
5.78
8.38

Lc =
1,32
6.00
8.60
5.49
8.09
NWL + 13,03
Ld =
5,28
11.28
13.88
9.61
12.21
∆H = 6,5
Le =
0,66
11.28
13.88
9.47
12.07

Lf  =
2,5
8.78
11.38
6.42
9.02
FWL + 15,63
Lg =
0,785
8.78
11.38
6.25
8.85
∆H = 6,5
Lh =
4
12.78
15.38
9.37
11.97

Li  =
2
12.78
15.38
9.22
11.82

Lj  =
4,5
8.28
10.88
3.73
6.33

Lk =
5,627
8.28
10.88
2.50
5.10

Ll =
0,5
8,78
11.38
2.89
5.49

Lm =
0,495
8,78
11.38
2.78
5.38

Ln =
2,28
5,65
8.25
2.85
5.80






BAB VII
PENUTUP

7.1 Kesimpulan
Dari perincian di atas dapat disimpulkan bahwa dalam tugas besar ini, selain merencanakan kebutuhan air irigasi kami juga merencanakan jaringan irigasi serta bangunan utama irigasi dan komponen pelengkapnya.
1.      Kebutuhan air untuk irigasi
Berdasarkan perhitungan dengan pola tata tanam diperoleh kebutuhan air irigasi maksimum sebesar 1,655 lt/dt/ha yang terjadi pada bulan Mei minggu ke-2.
2.      Perencanaan Bangunan Utama
Pada perencanaan ini hanya merencanakan bendung utamanya saja. Adapun hasilnya adalah sebagai berikut:
a.       Perencanaan mercu bendung
Mercu bendung menggunakan tipe bulat yang memiliki banyak keuntungan yang diantaranya adalah kesederhanaan dan tahan terhadap benturan, goresan dan abrasi.
b.      Desain bangunan intake
·         Diambil b                5,8 m
·         Jumlah bukaan        5
·         Lebar bukaan          = 1,93 m
·         Tinggi bukaan         = 1,12 m
·         Jumlah pilar             4 buah
c.       Desain bangunan peredam energi
·         Panjang kolam olakan                                             = 19 m
·         Tinggi, lebar dan selang blok-blok kolom olakan   = 1,88 m
·         Lebar gerigi maksimum                                          = 0,94 m
·         Jarak antar gerigi                                                     = 2,35 m
d.      Desain hidrolik bangunan pembilas
·         Lebar lubang           = 2 m
·         Tinggi lubang          = 1,5 m
·         Lebar pilar               = 1,5 m
e.       Panjang lantai udik
·         Panjang rayapan seharusnya 26 m
·         Tetapi menurut perhitungan Lp = 29,607 m sehingga panjang lantai udik cukup memadai.
3.      Stabilitas konstruksi
a.       Kontrol kondisi muka air normal tanpa gempa
Stabilitas terhadap guling, geser dan terhadap gaya dukung aman.
b.      Kontrol kondisi muka air normal dan gempa
Stabilitas terhadap guling, geser dan terhadap gaya dukung aman.
c.       Kontrol kondisi muka air banjir tanpa gempa
Stabilitas terhadap guling, geser dan terhadap gaya dukung aman.
d.      Kontrol kondisi muka air banjir dengan gempa
Stabilitas terhadap guling, geser dan terhadap gaya dukung aman.

7.2. Saran
  1. Karena waktu yang diberikan dalam pengerjakaan tugas irigasi dan bangunan air sangat terbatas maka diharapkan tugas dapat terselesaikan tepat waktu.
  2. Untuk menjadi perencana jaringan irigasi yang baik, seseorang harus benar-benar menguasai ilmu yang berhubungan erat dengan irigasi.
  3. Selain itu juga perlu dikembangkan dalam mengembangkan diri dengan membaca literatur yang ada dengan harapan bahwa perkembangan baru dalam bidang irigasi akan cepat didapatkan.

Senin, 02 Oktober 2017

KETAHANAN STRUKTUR GEDUNG PADA GEMPA


KETAHANAN STRUKTUR GEDUNG PADA GEMPA 

Latar Belakang :
 Masalah Gempa bumi adalah fenomena getaran yang dikaitkan dengan kejutanpada kerak bumi. Beban kejut ini dapat disebabkan oleh banyak hal, tetapi salah satu faktor yang utama adalah benturan pergesekan kerak bumi yang mempengaruhi permukaan bumi. 
Lokasi gesekan ini terjadi disebut fault zone. Kejutan yang berkaitan dengan benturan tersebut akan menjalar dalam bentuk gelombang. 
Gelombang ini menyebabkan permukaan bumi dan bangunan diatasnya bergetar. Pada saat bangunan bergetar, timbul gaya-gaya pada struktur bangunan karena adanya kecenderungan massa bangunan untuk mempertahankan dirinya dan gerakan. Setiap tahun kerak luar bumi bergetar sekitar satu juta kali. 
Getaran-getaran tersebut dapat diukur dengan peralatan seismograf. Sekitar 20 getaran diantaranya merupakan gempa bumi kuat dan 2 getaran merupakan gempa bumi ynag sangat kuat. Gempa bumi merambat melalui getaran keseluruh permukaan Bumi, akan tetapi menjadi berbahaya disekitar pusat gempa. Daerah yang paling rawan adalah yang mengalami pergeseran lempeng tektonik. 
Gempa bumi merupakan bencana alam yang paling menakutkan bagi manusia, karena bencana alam ini terjadi secara tiba-tiba, tidak dapat diprediksi kapan terjadinnya. Hal ini akibat kita selalu mengandalkan tanah tempat kita berpijak di bumi sebagai landasan yang paling stabil yang bisa selalu dalam keadaan diam dan menopang kita. Begitu terjadi gempa bumi, kita tiba-tiba menyadari bahwa tanah yang kita pijak tersebut ternyata bisa kehilangan stabilitasnya sehingga dapat merusak lingkungan dan bangunan yang ada di atas lapisan permukaan tanah, dan mampu menelan korban.Wilayah Indonesia mencakup daerah-daerah yang mempunyai tingkat resiko gempa yang tinggi diantara beberapa daerah gempa diseIuruh dunia. 
Data-data terakhir yang berhasil direkam menunjukkan bahwa rata-rata setiap tehun terjadi sepuluh kegiatan gempa bumi yang mengakibatkan kerusakan yang cukup besar di Indonesia. Sebagian terjadi pada daerah lepas pantai dan sebagian lagi pada daerah pemukiman. Pada daerah pemukiman yang cukup padat, perlu adanya suatu perlindungan untuk mengurangi angka kematian penduduk dan kerusakan berat akibat goncangan gempa. Dengan menggunakan prinsip teknik yang benar, detail konstruksi yang baik dan praktis maka kerugian harta benda dan jiwa menusia dapat dikurangi. Seperti halnya peristiwa beberapa tahun yang lalu di Yogjakarta diguncang oleh gempa berkekuatan 6,2 skala Richter pada tanggal 27 Mei 2006 kurang lebih pukul 05.55 WIB selama 57 detik.Korban tewas menurut laporan terakhir dari Departemen Sosial Republik Indonesia pada 1 Juni 2006 pukul 07:00 WIB, berjumlah 6.234 orang dengan rincian: Yogyakarta 165 jiwa, Kulon Progo 26 jiwa, Gunung Kidul 69 jiwa, Sleman 326 jiwa, Klaten 1.668 jiwa, Magelang 3 jiwa, Boyolali 3 jiwa, Purworejo 5 jiwa, Sukoharjo 1 jiwa dan korban terbanyak di Bantul 3.968 jiwa. 
Sementara korban luka berat sebanyak 33.231 jiwa dan 12.917 lainnya menderita luka ringan. Kabupaten Bantul merupakan daerah yang paling parah terkena bencana. Informasi menyebutkan sebanyak 7.057 rumah di daerah ini rubuh. 
Struktur bagunan gedung tahan gempa menurut SNI 03-17261-2002 Biasanya setelah terjadi gempa manusia baru sadar akan konstruksi bangunan yang kurang kokoh menyebabkan banyak menelan korban jiwa. Bangunan yang tahan gempa bisa dibangun dengan teknologi sederhana yang biasa dipakai dalam rumah-rumah konvensional dengan sistem struktur beton bertulang, dinding batu-bata dan atap kayu. 
Penambahan yang perlu dilakukan, misalnya pada penambahan angkur yang memperkuat hubungan antara elemen beton, dinding, atap dan elemen lainnya. Dengan sistem-sistem bangunan yang dikenal di Indonesia dan dibuat oleh standarisasi pemerintah. 1.2 Perumusan Masalah 1. 
Bagaimana cara meminimalisir hancurnya bangunan akibat dampak yang ditimbulkan gempa bumi? 2. Apakah struktur suatu bangunan berpengaruh terhadap kekuatan bangunan untuk menahan gempa bumi? 3. Apakah pondasi bangunan berpengaruh terhadap kekuatan struktur bangunan untuk menahan gempa bumi? 1.3 Tujuan dan Manfaat Penulisan Tujuan dari perancangan bangunan tahan gempa adalah merancang bangunan yang mempunyai daya tahan terhadap gempa bumi. Tahan terhadap gempa bumi dalam arti bahwa bila bangunan terkena gempa bumi maka bangunan tidak akan mengalami kehancuran secara struktural yang dapat meruntuhkan bangunan. Dalam perencanaan bangunan tahan gempa terdapat prinsip-prinsip yang menjadi dasar untuk didirikannya suatu bangunan. 
Prinsip tersebut yakni, pada konfigurasi bentuk bangunan, pemilihan material bangunan yang ringan, sistem konstruksi penahan beban, dan ketahanan bangunan terhadap kebakaran. Secara umum tujuan dan manfaat dari perencanaan ini adalah pengaplikasian lanjutan dari ilmu yang telah didapat di bangku perkuliahan dengan perhitungan dan permasalahan yang lebih nyata yang terjadi di lapangan. 1.3.1 Tujuan Penulisan 1. Memahami dampak yang ditimbulkan gempa bumi agar dapat meminima rusaknya suatu bangunan. 2. 
Berpengaruh atau tidaknya struktur bangunan dalam menahan gempa bumi. 3. Mengetahui bahwa semakin ringan bobot bangunan, maka gaya gempa yang diterima bangunan akan jauh berkurang. 4. mengurangi kerusakan, membatasi ketidak nyamanan penghunian saat gempa,dan melindungi layanan bangunan vital serta mengindarkan terjadinya korban jiwa. 1.3.2 Manfaat Penulisan 1. Kita dapat mengetahui, memahami arti dari gempa bumi, dampak yang ditimbulkannya. 2. mengetahui bahwa struktur bangunan sangat berpengaruh terhadap kekuatan suatu bangunan dalam menahan gempa bumi. 3. Untuk mengetahui bagaimana perencanaan struktur bangunan sehingga memberi rasa aman dan nyaman kepada penghuninya. 4. Meminimalkan kerusakan bangunan yang terjadi akibat gempa. 5. Mendapatkan ilmu tentang desain struktur bangunan tahan gempa pada kondisi wilayah gempa menengah dan tinggi.

Selasa, 11 Juli 2017

RISET OPERASI - PENGENDALIAN PERSEDIAAN DAN ANGGARAN MODAL ( CAPITAL BUDGETING)

1.1 PENGENDALIAN PERSEDIAAN
Pengendalian persediaan adalah merupakan usaha-usaha yang dilakukan oleh suatu perusahaan termasuk keputusan-keputusan yang diambil sehingga kebutuhan akan bahan untuk keperluan proses produksi dapat terpenuhi secara optimal dengan resiko yang sekecil mungkin. Persediaan yang terlalu besar (over stock) merupakan pemborosan karena menyebabkan terlalu tingginya beban-beban biaya guna penyimpanan dan pemeliharaan selama penyimpanan di gudang. Disamping itu juga persediaan yang terlalu besar berarti terlalu besar juga barang modal yang menganggur dan tidak berputar. Begitu juga sebaliknya kekurangan persediaan (out of stock) dapat menganggu kelancaran proses produksi sehingga ketepatan waktu pengiriman sebagaimana telah ditetapkan oleh pelanggan tidak terpenuhi yang ada sehingga pelanggan lari ke perusahaan lain. Singkatnya pengendalian persediaan merupakan usaha-usaha penyediaan bahan-bahan yang diperlukan untuk proses produksi sehingga dapat berjalan lancar tidak terjadi kekurangan bahan serta dapat diperoleh biaya persediaan yang sekecil-kecilnya.

1.2 MAKSUD DAN TUJUAN PEGENDALIAN PERSEDIAAN
Pada dasarnya pengendalian persediaan dimaksudkan untuk membantu kelancaran proses produksi, melayani kebutuhan perusahaan akan bahan-bahan atau barang jadi dari waktu ke waktu. Sedangkan tujuan dari pengendalian persediaan adalah sebagai berikut:
1. Menjaga agar jangan sampai perusahaan kehabisan bahan-bahan sehingga menyebabkan terhenti atau terganggunya proses produksi.
 2. Menjaga agar keadaan persediaan tidak terlalu besar atau berlebihan sehingga biaya-biaya yang timbul dari persediaan tidak besar pula.
3. Selain untuk memenuhi permintaan pelanggan, persediaan juga diperlukan apabila biaya untuk mencari barang/bahan penggantian atau biaya kehabisan bahan atau barang (stock out) relatif besar.

1.3 FUNGSI PENGENDALIAN PERSEDIAAN
Fungsi utama pengendalian persediaan adalah ”menyimpan” untuk melayani kebutuhan perusahaan akan bahan mentah atau barang jadi dari waktu ke waktu. Fungsi tersebut diatas ditentukan oleh berbagai kondisi seperti :
 1. Apabila jangka waktu pengiriman bahan mentah relatif lama maka perusahaan perlu persediaan bahan mentah yang cukup untuk memenuh kebutuhan perusahan selama jangka waktu pengiriman
2. Seringkali jumlah yang dibeli atau diproduksi lebih besar dari yang dibutuhkan.
3. Apabila pemintaan barang hanya sifatnya musiman sedangkan tingkat produksi setiap saat adalah konstan maka perusahaan dapat melayani permintaan tersebut dengan membuat tingkat persediaannya berfluktuasi mengikuti fluktuasi permintaan.
4. Selain untuk memenuhi permintaan langganan, persediaan juga diperlukan apabila biaya untuk mencari barang atau bahan pengganti atau biaya kehabisan barang atau bahan relatif besar.

1.4 Metode dan model pengendalian persediaan
1. Metode pengendalian persediaan Dalam mencari jawaban atas permasalahan umum dalam pengendalian persediaan seperti yang telah diuraikan diatas, secara kronologis metode pengendalian persediaan yang ada dapat diidentifikasikan sebagai berikut : Metode pengendalian persediaan, Metode ini menggunakan matematika dan statistika sebagai alat bantu utama dalam memecahkan masalah kuantitatif dalam sistem persediaan. Pada dasarnya metode ini berusaha mencari jawaban optimal dalam menentukan :
1. Jumlah pemesanan optimal (EOQ)
2. Titik pemesanan kembali (Reorder point)
3. Jumlah cadangan pengaman (safety stock) yang diperlukan. Metode ini sering disebut metode pengendalian tradisional karena memberi dasar lahirnya metode baru yang lebih modern seperti MRP di Amerika dan Metode Kamban di Jepang. Metode pengendalian persediaan secara statistik ini hanya digunakan untuk mengendalikan barang yang permintaannya bersifat bebas dan dikelola saling tidak bergantung.

Yang dimaksud permintaan bebas adalah permintaan yang hanya dipengaruhi mekanisme pasar sehingga bebas dari operasi produksi.
Model pengendalian persediaan Dalam pengelolaan persediaan terdapat dua keputusan penting yang harus dilakukan oleh manajemen, yaitu berapa banyak jumlah barang atau bahan yang harus dipesan setiap kali pengadaan persediaan dan kapan pemesanan barang harus dilakukan. Setiap keputusan yang diambil mempunyai pengaruh terhadap besar biaya penyimpanan barang yang begitu juga sebaliknya.

1. Model persediaan Economi Order Quantity (EOQ) Economic Order Quantity atau EOQ adalah jumlah pemesanan paling ekonomis, yaitu jumlah pembelian barang yang dapat meminimalkan jumlah biaya pemeliharaan barang dari gudang dan biaya pemesanan setiap tahun. Asumsi dasar dalam menerapkan metode EOQ untuk dipenuhi yaitu :
Permintaan dapat ditentukan secara pasti dan konstan, item yang dipesan indenpenden dengan item yang lain, pesanan yang diterima dengan segera dan pasti, tidak terjadi stock out serta harga item konstan. Tujuan dari model ini adalah untuk menentukan nilai Q sehingga meminimalkan total biaya persediaan. Dalam penentuan nilai Q maka Purchasing cost dapat diabaikan karena dianggap konstan. Dimana biaya total persediaan adalah sebagai berikut : Biaya total persediaan = Ordering Cost + Holding Cost+ Purchasing Cost Cara lain untuk memperoleh EOQ dengan pendekatan matematis dikenal dengan istilah cara formula. Dengan metode ini digunakan beberapa notasi atau parameter antara lain: TAC = total biaya persediaan tahunan (total annual inventory cost) TOC = total biaya pesan (total annual inventory cost) TCC = total biaya pesan (total carrying cost) R = jumlah pembelian (permintan ) satu periode C = biaya simpan tahunan (rupiah/unit_ S = biaya setiap kali pemesanan Q = jumlah pemesanan (unit/order) Q* = jumlah pemesanan optimum (EOQ) T = waktu antara satu pesanan dengan lainnya TC = total biaya persediana (rupiah per tahun) Biaya pemesanan per tahun S = frekuensi pesanan x biaya pesanan S = (R/Q) x s ........
Biaya penyimpanan per tahun C = persediaan rata-rata x biaya penyimpanan C = (Q/2)x c ....
Biaya total per tahun TC = (R/Q*)x S+ (Q*/2) x C .
 Keterangan : EOQ terjadi jika biaya pemesanan sama dengan biaya penyimpanan atau TOC = TCC, maka : (R/Q*)S = (Q*/2)C 2RS = CQ*2 Q*2 = (2RS/C) Maka : EOQ = Q* = √ 2RS/C

Persediaan pengaman (safety stock) Persediaan pengaman atau safety stock adalah persediaan minimum yang harus tersedia dan hanya dapat digunakan dalam keadaan yang betul-betul darurat. Dengan adanya safety stock maka perusahaan dapat mengalami resiko seminimal yang dapat ditimbulkan karena adanya ketidakpastian kedatangan bahan Besarnya safety stock (B) dapat dicari dengan rumus : B = a x Sdt .

Dimana : B = safety stock
               a = frequency level of service
            Sdt = standar deviasi lead time

2. Reorder Point (ROP) Yang dimaksud dengan reorder point adalah saat atau titik dimana pemesanan kembali harus diadakan sehingga kedatangan atau penerimaan bahan tepat pada waktunya dimana jumlah persediaan sama dengan safety stock Penentuan titik pemesanan kembali ini menunjukkan kepada bagian pembelian terhadap barang yang akan dibutuhkan. Hal ini ditunjukkan untuk menjaga keseimbangan persediaan serta perusahaan tidak kehabisan bahan jika sewaktu-waktu terdapat jumlah pesanan atau produk yang lebih besar jumlahnya. Pada kenyataannya ,bahan yang lebih besar jumlahnya pada kenyataan bahan yang dipesan tidak dapat dipenuhi atau tersedia karena dibutuhkan jangka waktu untuk pengiriman. Agar datangnya bahan tersebut tepat pada safety stock maa perusahaan harus melakukan pemesanan terlebih dahulu.
 Untuk dapat menerapkan kapan pemesanan kembali dapat dilakukan maka harus diperhatikan tiga unsur yang mempengaruhi, yaitu :
* Waktu antar saat melakukan pemesanan dengan saat bahan sampai di gudang Jumlah safety stock.
* Jumlah kebutuhan tiap kali proses Reorder point (ROP) atau R adalah menunjukkan suatu tingkat persediaan dimana saat itu harus dilakukan pesanan. Dengan rumus sebagai berikut : ROP = (U x L ) + Safety Stock Dimana : ROP = Reorder point U = tingkat kebutuhan per periode L = lead time Persediaan cukup untuk memenuhi kebutuhan selama tenggang waktu (lead time). Jumlah yang harus dipesan harus sesuai atau berdasarkan EOQ.
1. Maximum stock Maximum stock adalah keadaan dimana persediaan mencapai posisi yang maksimal. Maximum stock = safety stock +EOQ
Lead time Dalam pengisian kembali persediaan terdapat perbedaan waktu yang cukup lama antara saat pengadaan pemesanan (order) untuk pergantian kembali persediaan dengan saat penerimaan barang-barang yang dipesan tersebut diterma dan dimasukkan kedalam persediaan (stock). Perbedaan waktu ini disebut lead time. Lead time ini merupakan lamanya waktu antara mulai dibutuhkan pemesanan bahan sampai dengan kedatangan bahan-bahan yang dipesan tersebut diterima di gudang persediaan. Lamanya waktu tersebut tidak sama antara satu pesanan dengan pesanan yang lain. Oleh karena itu suatu pesanan yang dilakukan lamanya waktu yang harus diperkirakan walaupun resiko kesalahan mesin tetap ada. Lead time merupakan faktor yang sangat penting bagi suatu rencana persediaan karena lead time harus dipatuhi oleh para pelaku pembelian. Tanpa lead time yang konstan pengendalian persediaan akan kacau.

ANGGARAN MODAL ( CAPITAL BUDGETING)

by julrahmatiyalfajri
1.            PENDAHULUAN
Modal (Capital) menunjukkan aktiva tetap yang digunakan untuk produksi. Anggaran (budget) adalah sebuah rencana rinci yg memproyeksikan aliran kas masuk dan aliran kas keluar selama beberapa periode pada saat yg akan datang. Capital budget adalah garis besar rencana pengeluaran aktiva tetap. Penganggaran modal (capital budgeting) adalah proses menyeluruh menganalisa proyek2 dan menentuan mana saja yang dimasukkan ke dalam anggaran modal.
Pentingnya Penggangaran Modal
1.            Keputusan penggaran modal akan berpengaruh pada jangka waktu yang lama sehingga perusahaan kehilangan fleksibilitasnya.
2.            Penanggaran modal yg efektif akan menaikkan ketepatan waktu dan kualitas dari penambahan aktiva.
3.            Pengeluaran modal sangatlah penting
Tahap-Tahap Penganggaran Modal
1.            Biaya proyek harus ditentukan.
2.            Manajemen harus memperkirakan aliran kas yg diharapkan dari proyek, termasuk nilai akhir aktiva.
3.            Risiko dari aliran kas proyek harus diestimasi. (memakai distribusi probabilitas aliran kas).
4.            Dengan mengetahui risiko dari proyek, manajemen harus menentukan biaya modal (cost of capital) yg tepat untuk mendiskon aliran kas proyek.
5.            Dengan menggunakan nilai waktu uang, aliran kas masuk yang diharapkan digunakan untuk memperkirakan nilai aktiva.
6.            Terakhir, nilai sekarang dari aliran kas yg diharapkan dibandingkan dengan biayanya.
Dalam pengambilan keputusan investasi, opportunity cost memegang peranan yang penting. Opportunity cost merupakan pendapatan atau penghematan biaya yang dikorbankan sebagai akibat dipilihnya alternatif tertentu. Misalnya dalam penggantian mesin lama dengan mesin baru, harga jual mesin lama harus diperhitungkan dalam mempertimbangkan investasi pada mesin baru.
Dalam prinsip akuntansi yang lazim, biaya bunga modal sendiri tidak boleh diperhitungkan sebagai biaya. Dalam pengambilan keputusan investasi, biaya modal sendiri justru harus diperhitungkan. Analisis biaya dalam keputusan investasi lebih dititikberatkan pada aliran kas, karena saat penelimaan kas dalam investasi memilki nilai waktu uang. Satu rupiah yang diterima sekarang lebih berharga dibandingkan dengan satu rupiah yang diterima di masa yang akan datang. Oleh karena itu, meskipun untuk perhitungan laba perusahaan, biaya diperhitungkan berdasarkan asas akrual, namun dalam perhitungan pemilihan investasi yang memperhitungkan nilai waktu uang, biaya yang diperhitungkan adalah biaya tunai.
1.            PEMBAHASAN
1.            Pengertian
Capital Budgeting adalah merupakan proses evaluasi dan pemilihan investasi jangka panjang yang konsisten terhadap maksimalisasi tujuan perusahaan. Definisi Capital Budgeting “Capital Budgeting is the Process of evaluating and selecting long-term invesments consistents with the firm’s goal of owner wealth maximization”. Investasi juga berarti pengeluaran pada saat ini dan hasil yang diharapkan dari pengeluaran tersebut baru akan diterima lebih dari satu tahun mendatang. Definisi Capital Budgeting adalah sebagai berikut: “Capital Budgeting involves the entire process of planning whose returns are expected to extend beyond one year”.
Sebagai konsekuensinya, perusahaan membutuhkan prosedur tertentu untuk menganalisa dan menyeleksi beberapa alternatif investasi yang ada. Keputusan mengenai investasi tersebut sulit dilakukan karena memerlukan penilaian mengenai situasi dimasa yang akan datang, sehingga dibutuhkan asumsi-asumsi yang mendasari estimasi terhadap situasi yang paling mendekati yang mungkin terjadi, baik situasi internal maupun eksternal perusahaan. Investasi tersebut harus dihitung sesuai dengan cash flow perusahaan dan harus merupakan keputusan yang paling tepat untuk menghindari resiko kerugian atas investasi tersebut. “As time passes, fixed assets may become obselete or may require an overhaul; at these points, too, financial decisions may be required”. Perusahaan biasanya membuat berbagai alternatif atau variasi untuk berinvestasi dalam jangka panjang, yakni berupa penambahan aset tetap seperti tanah, mesin dan peralatan. Aset tersebut merupakan aset yang berpotensi, yang merupakan sumber pendapatan yang potensial dan mencerminkan nilai dari sebuah perusahaan.Capital budgeting dan keputusan keuangan diperlakukan secara terpisah. Bila investasi yang diajukan telah ditentukan untuk diterima, manager keuangan kemudian memilih metoda pembiayaan yang paling baik.
-. Anggaran (budget) adalah sebuah rencana rinci yg memproyeksikan aliran kas masuk dan aliran kas keluar selama beberapa periode pada saat yg akan datang.
-. Capital budget adalah garis besar rencana pengeluaran aktiva tetap
-. Penganggaran modal (capital budgeting) adalah proses menyeluruh menganalisa proyek2 dan menentuan mana saja yang dimasukkan ke dalam anggaran modal.
-. Proses mengumpulkan, mengevaluasi, menyeleksi, dan menentukan alternatif penanaman modal yang akan memberikan penghasilan bagi perusahaan untuk jangka waktu lebih dari 1 tahun.
*. Pentingnya Penggangaran Modal
1.            Keputusan penggaran modal akan berpengaruh pada jangka waktu yang lama sehingga perusahaan kehilangan fleksibilitasnya.
2.            Penanggaran modal yg efektif akan menaikkan ketepatan waktu dan kualitas dari penambahan aktiva.
3.            Pengeluaran modal sangatlah penting
*. Motif Capital Budgeting
             Pengembangan produk baru atau pembelian aktiva baru
             Pengurangan biaya dengan mengganti aktiva yang tidak efisien
             Modernisasi atas aktiva tetap
*. JENIS-JENIS KEPUTUSAN PENGANGGARAN MODAL
             Penambahan dan perluasan fasilitas
             Produk baru
             Inovasi dan perluasan produk
             Penggantian (replacements) (a) penggantian pabrik a1/11/2005tau peralatan usang (b) penggantian pabrik atau peralatan lama dengan pabrik atau peralatan yang lebih
             Menyewa/membuat atau membeli
             Penyesuaian fasilitas dan peralatan dengan peraturan pemerintah, lingkungan, dan keamanan
             Lain-lain keputusan seperti kampanye iklan, program pelatihan dan proyek-proyek yang memerlukan analisis arus kas keluar dan arus kas masuk.
*. PRINSIP DASAR PROSES PENGANGGARAN MODAL
             Penganggaran modal pada dasarnya adalah aplikasi prinsip yang mengatakan bahwa perusahaan harus menghasilkan keluaran atau menyelenggarakan kegiatan bisnis sedemikian rupa sehingga hasil imbuh (marginal revenue) produk sama dengan biaya imbuhnya (marginal cost).
             Prinsip ini dalam kerangka penganggaran modal berarti bahwa perusahaan harus melakukan tambahan investasi sedemikian rupa sehingga perolehan imbuh (marginal returns) investasi itu sama dengan biaya imbuhnya. Daftar berbagai proyek investasi dari hasil yang tertinggi hingga yang terendah mencerminkan kebutuhan perusahaan akan modal untuk investasi.
             Biaya imbuh dari berbagai daftar investasi itu memberi petunjuk tentang upaya perusahaan untuk memperoleh tambahan modal guna membiayai investasi. Biaya imbuh modal berarti sejumlah biaya yang harus ditanggung oleh perusahaan untuk memperoleh dana dari luar (misalnya meminjam atau menjual saham dan biaya tumbal/opportunity cost dari dana sendiri yang dapat diperoleh
*. Jenis Proyek
-. Independent project: proyek atau investasi yang berdiri sendiri (tidak akan mempengaruhi usulan proyek lainnya).
-. Mutually exclusive project: proyek yang memiliki fungsi yang sama (dengan memilih suatu proyek akan menghilangkan kesempayan proyek yang lainnya).
*. Ketersediaan Dana
             Jika dana TIDAK TERBATAS, maka perusahaan dapat memilih semua independen project yang sesuai dengan expected return yang diharapkan.
             Jika dana TERBATAS, maka perusahaan perlu melakukan capital rationing dengan mengalokasikan dana hanya pada proyek yang memberikan return maksimal
2.            Proses Capital Budgeting
Proses Capital Budgeting terdiri dari 5 langkah yang saling berkaitan, yakni:
             Pembuatan Proposal
Proposal penganggaran barang modal dibuat di semua tingkat dalam sebuah organisasi bisnis. Untuk menstimulasi aliran berbagai ide, banyak perusahaan menawarkan penghargaan berupa uang tunai untuk beberapa proposal yang diadopsi.
             Kajian dan Analisa
Proposal penganggaran barang modal secara formal direview dalam rangka (a) mencapai tujuan dan rencana utama perusahaan dan yang paling penting (b) untuk mengevaluasi kemampuan ekonominya. Biaya yang diajukan dan benefit yang diestimasikan dikonversikan menjadi sebuah cash flow yang sesuai. Bermacam-macam teknik capital budgeting dapat diaplikasikan untuk cash flow tersebut untuk menghitung tingkat keuntungan dari investasi.
Berbagai macam aspek resiko diasosiasikan dengan proposal yang akan dievaluasi. Setelah analisis ekonomi telah dibuat lengkap, diiringi dengan data tambahan dan rekomendasi yang ditujukan untuk para pengambil keputusan.
             Pengambilan Keputusan
Besarnya sejumlah dana yang dikeluarkan dan pentingnya penganggaran barang modal menggambarkan tingkat organisasi tertentu yang membuat keputusan penganggaran. Perusahaan biasanya mendelegasikan kewenangan penganggaran barang modal sesuai dengan jumlah uang yang dikeluarkan. Secara umum jajaran direksi memberikan keputusan akhir untuk sejumlah tertentu penganggaran barang modal yang dikeluarkan.
             Implementasi
Ketika sebuah proposal telah disetujui dan dananya telah siap, tahap implementasi segera dimulai. Untuk pengeluaran yang kecil, penganggaran dibuat dan pembayaran langsung dilaksanakan. Namun untuk penganggaran dalam jumlah besar, dibutuhkan pengawasan yang ketat.
             Follow Up (tindak lanjut)
Setelah diimplementasikan maka perlu dilakukan monitoring selama tahap kegiatan operasi berjalan dari proyek tersebut. Perbandingan dari biaya yang ada dan keuntungan yang diekspektasikan dari berbagai proyek sebelumnya adalah sangat vital. Ketika biaya yang dikeluarkan melebihi anggaran biaya yang ditetapkan, harus segera dilakukan tindakan untuk menghentikannya, apakah dengan meningkatkan benefit atau mungkin menghentikan proyek tersebut.
Setiap langkah dalam proses tersebut penting dilakukan terutama pada langkah kajian dan analisa, maupun pengambilan keputusan (langkah 2 dan 3) yang membutuhkan waktu dan tenaga yang paling besar. Langkah terakhir yakni follow up juga penting namun sering diabaikan. Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga perusahaan untuk dapat meningkatkan akurasi cash flow yang diestimasi.
3.            Jenis-jenis Investasi
Investasi dapat dilaksanakan oleh perusahaan tergantung motif dasar perusahaan yakni semakin tinggi tingkat hasil pengembalian atas investasi tersebut. Investasi tersebut terdiri dari berbagai jenis yang disesuaikan dengan tujuan perusahaan. Definisi investasi sebagai berikut: “The commitment of funds to one of more assets that will be held over some future time period”. Definisi tersebut mengartikan bahwa investasi adalah komitmen sejumlah dana untuk menjadi satu atau lebih aset yang akan dilaksanakan dalam suatu periode tertentu di masa yang akan datang. Selanjutnya Jones menggolongkan jenis investasi sebagai berikut:
1.            a.  Financial Assets. Pieces of paper evidencing a claim on some issuer
2.            b. Real Assets. Physical assets, such as gold or real estate
3.            c.  Marketable Securities. Financial assets that are easily and cheaply traded in organized markets.
4.            Rasionalisasi Modal
Persoalan rasionalisasi modal (capital rationing) akan muncul apabila terdapat batasan dana yang tersedia dan dihadapkan pada suatu portfolio dari investasi. Oleh karena itu kita perlu memilih beberapa alternatif investasi yang dapat dicapai dari anggaran yang tersedia dengan tingkat keuntungan yang cukup tinggi. Untuk itu perlu diperhatikan dua sifat umum dari berbagai investasi tersebut, diantaranya dikemukakan adalah:
1.            Independent projects yakni proyek yang cash flownya tidak berhubungan atau tidak tergantung diantara satu proyek dengan proyek lainnya. Penerimaan atas salah satu proyek dengan alasan tertentu tidak akan mengeliminasi proyek lainnya. Apabila sebuah perusahaan memiliki banyak anggaran dana yang tersedia untuk diinvestasikan, kriteria penerimaan atas proyek akan lebih mudah. Semua pilihan investasi yang menghasilkan keuntungan yang paling besar akan langsung dapat diterima.
2.            Mutually exclusive project adalah proyek yang memiliki fungsi yang sama dan bersaing satu sama lainnya. Penerimaan suatu proyek akan mengeliminir proyek lainnya yang setara.
3.            Cash Flow dan Metode Investasi
A.            Initial Investment
Batasan investasi awal sangat relevan dengan sejumlah cash out flow yang dipertimbangkan ketika mengevaluasi prospektif penganggaran barang modal. Investasi awal (initial invesment) dilakukan pada nol waktu (time zero), yakni waktu ketika anggaran dikeluarkan. Investasi awal diperhitungkan dengan mengurangi semua cash inflow yang terjadi pada saat ‘time zero’ dengan seluruh cash outflow yang terjadi pada saat ‘time zero’. Rumusan dasar untuk menentukan investasi awal adalah biaya pembelian aset baru ditambah biaya  instalasi dikurangi pajak penjualan aset lama. Format dasar penentuan Initial Invesment yakni sebagai berikut:
“The basic Format for Determining Initial Investment
Installed cost of new asset = Cost of new asset + instalation costs – after-tax proceeds from sale of sold assets”.
Dengan adanya initial invesment tersebut akan mempengaruhi dan akan merubah Net Working Capital (Modal Kerja Bersih, (NWC) dari suatu perusahaan. Apabila sebuah perusahaan bermaksud membeli kapal dalam rangka ekspansi maka baik level produksinya, atau tingkat kas, piutang, persediaan, maupun hutang dagangnya akan meningkat. Perbedaan antara perubahan aset lancar dengan perubahan hutang lancar merupakan perubahan Net Working Capital. Secara umum apabila aset lancar meningkat lebih besar dibandingkan hutang lancar akan menghasilkan peningkatan NWC, begitupun sebaliknya.
1.            Cash Flow
Salah satu hal penting didalam persoalan kebijakan investasi adalah mengadakan estimasi dari pengeluaran uang yang akan diterima dari investasi tersebut pada masa yang akan datang. Untuk mengevaluasi berbagai alternatif penganggaran barang modal/investasi, perusahaan harus menentukan cash flow yang sesuai, yakni data mengenai aliran kas bersih dari suatu investasi.
Untuk keperluan penilaian suatu investasi yang dibiayai sepenuhnya oleh modal sendiri aliran kas bersih (cash flow) adalah sebelum pembebanan penyusutan dan diperhitungkan sesudah pajak. Namun apabila dibiayai dengan modal pinjaman maka aliran kas bersih adalah sebelum dibebani penyusutan, bunga dan diperhitungkan setelah pajak.
Selanjutnya pengertian arus kas “The netral net cash, as opposed to accounting net income, that flows into (or out of) a firm during some specified period”.
Analisa cash flow perusahaan dapat dijadikan sebagai dasar penelitian untuk melihat sejauh mana aktivitas usaha secara akumulatif dapat mengcover dana yang diinvestasikan untuk menggerakkan kegiatan operasional perusahaan.
Setiap cash flow dari suatu proyek memiliki pola konvensional  karena di dalamnya terdapat 3 komponen dasar yakni (1) investasi awal, (2) Cash inflow dan (3) terminal cash flow.
Menurut (Bambang Rijanto, 1995) setiap usul pengeluaran modal selalu mengandung dua macam aliran kas (cash Flows), yaitu:
1.            Aliran kas keluar neto (Net Outflow of Cash) yaitu yang diperlukan untuk investasi baru.
2.            Aliran kas masuk neto tahunan (Net Annual Inflow of Cash), yakni sebagai hasil dari investasi baru tersebut, yang ini sering pula disebut “Net Cash Proceeds” atau cukup dengan istilah “Proceeds”.
Arus kas untuk tujuan capital budgeting didefinisikan sebagai arus kas sesudah pajak atas semua modal perusahaan. Secara aljabar, definisi tersebut sama dengan laba sebelum bunga dan pajak, dikurangi pajak penghasilan jika perusahaan mempunyai hutang, ditambah beban penyusutan non kas. Rumusannya adalah sebagai berikut:
Cash Flow = EBIT (1 – T) + Depresiasi
Dimana  :
EBIT = Laba Sebelum Bunga dan pajak
T        = Pajak penghasilan perusahaan
Depr  = Beban Penyusutan
Rumusan tersebut berlaku untuk perusahaan yang tidak memiliki hutang. Apabila perusahaan memiliki hutang maka rumusannya adalah :
Cash Flow = NI + Depr + rD (1 – T)
Dimana:
NI = Net Income
rD = Interest expense (biaya bunga bank)
Perkiraan cash flow merupakan hal yang sangat penting dalam proses capital budgeting, yakni sebuah proses yang rumit dan kompleks yang membutuhkan pemikiran dan perhitungan yang matang agar estimasi cash flow yang diproyeksikan mampu mendekati perkiraan cash flow yang dilaksanakan perusahaan. Dengan demikian, penilaian terhadap hasil analisis capital budgeting akan memberikan penilaian yang akurat pada penentuan keputusan investasi.
6.            Metode Evaluasi Kelayakan Rencana Investasi
Metode yang dapat digunakan untuk dapat mengevaluasi berbagai alternatif investasi barang modal untuk dapat dipilih dikenal dua macam metode yakni metode konvensional dan metode discounted cash flow. Di dalam metode convensional dipergunakan dua macam tolak ukur untuk menilai profitabilitas rencana investasi yakni payback period (PB) dan average rate of return (ARR), sedangkan dalam metode discounted cash flow dikenal dua macam tolak ukur profitabilitas yakni Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR) dan profitability Index. Perbedaan utama antara metode konvensional dengan metode discounted cash flow terletak pada penilaian terhadap nilai waktu uang (time value of money). Metode evaluasi konvensional tidak mempertimbangkan time value of money.
1.            Payback Period
Metode payback period pada umumnya digunakan untuk mengevaluasi investasi yang diajukan. Payback period adalah target waktu yang dibutuhkan oleh perusahaan untuk mengembalikan investasi awal yang diperhitungkan dari cash inflow. Definisi payback period sebagai berikut: The payback period is the exact amount of time required for the firm to recover its initial investment in a project as calculated from cash inflow”
Payback period diperhitungkan dengan membagi investasi dengan cash inflow tahunan. Kriteria terhadap penerimaan keputusan investasi dengan menggunakan metode payback ini adalah diterima apabila payback period yang diterima yang diperoleh lebih singkat/pendek waktunya dibandingkan dengan target waktu payback period yang sebelumnya telah ditentukan.
Contoh
Perusahaan ABC akan melakukan investasi terhadap proyek A dan proyek B. Kedua proyek tersebut merupakan proyek independen dan mutually exclusive. Investasi dikeluarkan pada awal tahun pertama. Adapun aliran kas bersih dari masing-masing proyek sebagai berikut:
Tahun   Proyek A              Proyek B
0              -100.000               -100.000
1              50.000   10.000
2              40.000   30.000
3              30.000   40.000
4              20.000   50.000
5              10.000   20.000
*. Perhitungannya
Proyek A =
-100.000 – (50.000 + 40.000 + 10.000) = 2 tahun 4 bulan (10/30 x 12 bulan)
Proyek B =
-100.000 – (10.000 + 30.000 + 40.000 + 20.000) = 3 tahun 5 bulan (20/50 x 12 bulan)
Keputusannya pemilihan proyek :
Proyek A, karena memiliki waktu pengembalian yang lebih pendek
1.            Net Present Value
Secara eksplisit NPV memberikan pertimbangan dari nilai waktu uang, dan merupakan teknik capital budgeting yang banyak digunakan. NPV adalah jumlah present value semua cash inflow yang dikumpulkan proyek (dengan menggunakan discount rate suku bunga kredit yang dibayar investor) dikurangi jumlah investasi (initial cash outflow). Net Present Value yaitu: “The Net Present Value is found by subtracting a project’s initial investment from the present value of its cash inflows discounted at a rate equal to the firm’s cost of capital”.
nNPV = Σ CFt /(1 + k)t – Io
t = 1
Sebagai pedoman umum, rencana investasi akan menguntungkan apabila NPV positif dan apabila NPV nol maka investasi tersebut berarti break even. Apabila NPV suatu proyek negatif, berarti proyek tersebut tidak layak untuk dilaksanakan.
t
Dimana:
CFt       = Net Cash Flow (Prodeeds) pada tahun ke – t
k          = Tingkat Diskonto
t           = Lama waktu atau periode berlangsungnya investasi
I0          = Initial Outlays (Nilai investasi awal)
Kelebihan metode NPV sebagai sarana penilaian terhadap kelayakan suatu rencana investasi barang modal adalah penggunaan nilai waktu uang untuk menghitung nilai sebenarnya cash flow yang diperoleh pada masa yang akan datang. Dengan demikian, dapat diperoleh gambaran profitabilitas proyek yang lebih mendekati realitas. Kelebihan lainnya adalah digunakannya discount faktor, biasanya merupakan salah suku bunga kredit yang dipinjam investor untuk membiayai proyek. Dengan demikian, penggunaan metode ini menjadi lebih fleksibel karena dapat disesuaikan dengan discount factor yang berubah-ubah dari waktu ke waktu. Kriteria penerimaan atas investasi dengan metode ini adalah diterima apabila NPV yang dihasilkan adalah positif, dan ditolak apabila nilai NPV negatif. Kelemahan dari metode ini adalah perhitungan yang cukup rumit, tidak semudah perhitungan payback period. Untuk perhitungannya diperlukan keahlian seorang financial analis sehingga penggunaannya terbatas.
Contoh :
Perusahaan ABC akan melakukan investasi terhadap proyek A dan proyek B. Kedua proyek tersebut merupakan proyek independen dan mutually exclusive. Investasi dikeluarkan pada awal tahun pertama.
Diketahui discount rate 10%
Adapun aliran kas bersih dari masing-masing proyek sebagai berikut:
Tahun   Proyek A              Proyek B
0              -100.000               -100.000
1              50.000   10.000
2              40.000   30.000
3              30.000   40.000
4              20.000   50.000
5              10.000   20.000
Jawaban :
             Proyek A Tahun 1 = 50.000 / (1+0,1)1 = 45.455
             Proyek A Tahun 2 = 40.000 / (1+0,1)2 = 33.058
             Proyek A Tahun 3 = 30.000 / (1+0,1)3 = 22.539
             Proyek A Tahun 4 = 20.000 / (1+0,1)4 = 13.660
             Proyek A Tahun 5 = 10.000 / (1+0,1)5 = 6.209
NPV Proyek A = (45.455 + 33.058 + 22.539 + 13.660 + 6.209) – 100.000   = 20.921
             Proyek B Tahun 1 = 10.000 / (1+0,1)1 = 9.091
             Proyek B Tahun 2 = 30.000 / (1+0,1)2 = 24.793
             Proyek B Tahun 3 = 40.000 / (1+0,1)3 = 30.053
             Proyek B Tahun 4 = 50.000 / (1+0,1)4 = 34.151
             Proyek B Tahun 5 = 20.000 / (1+0,1)5 = 12.419
NPV Proyek B = (9.091 + 24.793 + 30.053 + 34.151 + 12.419) – 100.000 = 10.507
Tahun   PV Proyek A       PV Proyek B
0              – 100.000             – 100.000
1              45.455   9.091
2              33.058   24.793
3              22.539   30.053
4              13.660   34.151
5              6.209     12.419
NPV       20.921   10.507

Keputusan :
Proyek A, karena memiliki nilai lebih besar dibandingkan proyek B, walaupun keduanya memiliki nilai NPV > 0
1.            Internal Rate of Return (IRR)
Metode ini mungkin merupakan metode yang paling banyak digunakan sebagai salah satu teknik dalam mengevaluasi alternatif – alternatif investasi. Definisi Internal Rate of Return  adalah: “The Internal Rate of Return (IRR) is the discount rate that equates the present value of cash inflows with the initial investment associated with a project”.
Dijelaskan bahwa IRR merupakan rate discount dimana nilai present value dari cash inflow sama dengan nilai investasi awal suatu proyek. Dengan kata lain IRR adalah rate discount dimana NPV dari proyek tersebut = Rp0. IRR juga menggambarkan persentase keuntungan yang sebenarnya akan diperoleh dari investasi barang modal atau proyek yang direncanakan.
Kriteria penerimaan proyek investasi dengan menggunakan metode Internal Rate of Return adalah apabila IRR yang dihasilkan lebih besar dibandingkan cost of capital, sebaliknya apabila lebih kecil dibandingkan cost of capital proyek tersebut ditolak.
Pada dasarnya IRR dapat dicari dengan cara coba-coba (trial and error). Pertama-tama kita menghitung PV dari proceeds suatu investasi dengan menggunakan tingkat bunga yang kita pilih menurut kehendak kita. Kemudian hasil perhitungan itu dibandingkan dengan jumlah PV dari outlaysnya. Kalau PV dari proceeds lebih besar daripada PV dicari investasi atau outlaysnya, maka kita harus menggunakan tingkat bunga yang lebih rendah. Cara demikian terus dilakukan sampai kita menemukan tingkat bunga yang dapat menjadikan PV dari proceeds sama besarnya dengan PV dari outlaysnya. Pada tingkat bunga inilah NPV dari usul tersebut adalah nol atau mendekati nol.
Contoh
Perusahaan ABC akan melakukan investasi terhadap proyek A dan proyek B. Kedua proyek tersebut merupakan proyek independen dan mutually exclusive. Investasi dikeluarkan pada awal tahun pertama.
Adapun aliran kas bersih dari masing-masing proyek sebagai berikut:
Tahun   Proyek A              Proyek B
0              -100.000               -100.000
1              50.000   10.000
2              40.000   30.000
3              30.000   40.000
4              20.000   50.000
5              10.000   20.000

Jawaban : (Untuk Proyek A, apabila : menggunakan discout rate 20% dan 21%)
             Menggunakan discount rate sebesar 20%
PV Cashflow A = (50.000/1.2) + (40.000/1.44) + (30.000/1.728) +                 (20.000/2.0736) + (10000/2.4883)   = 100.470
             Menggunakan discount rate sebesar 21%
PV Cashflow A = (50.000/1.21) + (40.000/1.4641) + (30.000/1.7716) + (20.000/2.1436) + (10000/2.5937) = 98.763
Jawaban : (Untuk Proyek A, apabila : menggunakan discout rate 18% dan 23%)
             Menggunakan discount rate sebesar 18%
PV Cashflow A = (50.000/1.18) + (40.000/1.3924) + (30.000/1.6430) + (20.000/1.9387) + (10000/2.2877) = 104.047
             Menggunakan discount rate sebesar 23%
PV Cashflow A = (50.000/1.23) + (40.000/1.5129) + (30.000/1.8608) + (20.000/2.2888) + (10000/2.8153)   = 95.502
             Menggunakan Interpolasi untuk mencari present value aliran kas sebesar 100.000 (diantara 95.502 dengan 104.047)
IRR proyek A = 18% + {(104.047 – 100.000)/(104.047 – 95.502)} {5%}
IRR proyek A = 18% + 2,368%
IRR proyek A = 20.368%
Contoh IRR Proyek A
Tahun   PVIF(20%)           PV Proyek A       PVIF(21%)           PV Proyek A
1              1,2          41.667   1,21        41.322
2              1,44        27.778   1,4641   27.321
3              1,728     17.361   1,7716   16.934
4              2,0736   9.645     2,1436   9.330
5              2,4883   4.019     2,5937   3.855
PV                          100.470                 98.762
Melalui interpolasi diperoleh IRR Proyek A = 20,275%
     Jawaban :
             Menggunakan discount rate sebesar 14%
PV Cashflow B = (10.000/1.14) + (30.000/1.2996) + (40.000/1.4815) + (50.000/1.6889) + (20.000/1.9254) = 98.848
             Menggunakan discount rate sebesar 13%
PV Cashflow B = (10.000/1.13) + (30.000/1.2769) + (40.000/1.4429) + (50.000/1.6305) + (20000/1.8424) = 101.587
             Menggunakan Interpolasi untuk mencari present value aliran kas sebesar 100.000 (diantara 98.848 dengan 101.587)
IRR proyek B = 13% + {(101.587 – 100.000)/(101.587 – 98.848)} {1%}
IRR proyek B = 13% + 0.579%
IRR proyek B = 13.579%
Contoh (IRR à Proyek B)
Tahun   PVIF(14%)           PV Proyek B       PVIF(13%)           PV Proyek B
1              1,14        8.772     1,13        8.850
2              1,2996   23.084   1,2769   23.494
3              1,4815   27.000   1,4429   27.722
4              1,6889   29.605   1,6305   30.665
5              1,9254   10.387   1,8424   10.856
Proyek Yang dipilih :
Proyek A, karena memiliki tingkat rate of return lebih tinggi dibandingkan dengan proyek B
Perbandingan Metode Capital Budgeting
Metode               Proyek A              Proyek B
Payback Period 2 tahun 4 bulan 3 tahun 5 bulan
NPV       20.921   10.507
IRR         20,275%               13,579%
             KESIMPULAN
Dari pembahasan di atas, Penganggaran Modal (capital budgeting) sangatlah penting dalam menentukan alur kas,investasi dan penanaman saham. Dimana bila perhitungan atau keputusan untuk pengambilan penganggaran modal tepat, maka keuntungan bagi perusahaan akan meningkat sesuai dengan perhitungan. Dan sangatlah penting bagi manajer keuangan untuk sangat hati-hati dalam mengambil keputusan dengan keadaan keuangan suatu  perusahaan.
DAFTAR PUSTAKA
Kadariah, Lien K Sabur dan Clive Gray. 1978. Pengantar Evaluasi Proyek. FEUI.
Jakarta
Pangestu S.2001. Manajemen Keuangan (Bahan Ajar) Program Studi Manajemen
Agribisnis. UGM. Yogyakarta.
Simarmata, Dj. A. 1984. Pendekatan Sistem dalam Analisis Proyek Investasi dan Pasar
Modal. Gramedia. Jakarta
Suratiyah, Ken.2006. Manajemen Finansial Untuk Perusahaan Pertanian (Buku Ajar).

Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian. UGM.Yokyakarta